Tapur Untuk 3 Negeri Beda Agama di Hari Nan Fitri

KBRN, Ambon ;  Cuaca pada Sabtu siang, 24 Juni 2017 di Negeri (Desa) Tengah Tengah Jazirah Leihitu Pulau Ambon cukup cerah, meski langit di atas Pulau Haruku diselimuti awan hitam. Suka cita penduduk negeri menyambut hari kemenangan usai melaksanakan Shalat Idul Fitri di Masjid An-Nikmah, tergambar dari raut-raut wajah yang hilir mudik keliling kampung untuk mendapatkan sejumput maaf di hari nan fitri.

Hari itu adalah hari lebaran, Hari Raya Idul Fitri 1438 Hijriah. Hari kemenangan umat Islam di kampung Muslim ini, memang dirayakan mendahului pemerintah, karena negeri ini selalu berpatokan pada kalender Islam yang diwariskan oleh para leluhur selama ratusan tahun atau jauh sebelum negara Indonesia terbentuk. 

Dan meski hari raya Idul Fitri pada tahun ini dirayakan lebih dulu dari masyarakat Indonesia pada umumnya, namun nuansa hari lebaran di salah saru kampung Kabupaten Maluku Tengah ini, selalu semarak karena ikut dirayakan oleh warga perantauan yang pulang kampung, termasuk yang bermukim di Belanda.

Hari raya Idul Fitri bagi masyarakat Tengah Tengah di Kecamatan Salahutu  rupanya memiliki makna universal dan sarat dengan nilai-nilai persaudaran.  Hal itu terbaca dari Tradisi Tapur yang dilakukan untuk menyatukan masyarakat Tengah Tengah dengan masyarakat  non Muslim dari Negeri Abubu di Pulau Nusalaut, Hatusua di Pulau Seram dan Hutumury (khusus marga Leiwaherilla) di Jazirah Leitimur Pulau Ambon yang memiliki hubungan pela gandong dengan masyarakat Tengah Tengah. 

Tradisi Tapur di negeri ini, telah ada sejak zaman leluhur dan dipertahankan  oleh anak cucu penghuni Nusa Uru Solemata. Tradisi ini membuat persekutuan hidup antar 3 negeri beda agama sangat kental. 

Terbukti saat konflik 1999 masih memanas, masyarakat dua negeri menyempatkan diri datang secara sembunyi-sembunyi membantu pengecoran lantai Masjid An-Nikmah dengan menggunakan speedboat.

TRADISI TAPUR YANG HISTORIS

Tapur adalah istilah yang diberikan kepada tempat menaruh makanan yang terbuat dari gaba-gaba (pelepah daun sagu) atau bilah bambu. Bentuk dari tempat itu bermacam-macam tergantung kreativitas, ada yang berbentuk rakit, arumbai atau perahu tradisional, bahkan ada yang berbentuk kapal dengan hiasan bendera aneka rupa warna. 

Tapur yang berisi bahan makanan sengaja disediakan oleh raja, saniri negeri, imam masjid dan orang-orang terpandang atau  orang kaya untuk memberi makan penduduk satu negeri dan masyarakat pela gandong dari Negeri Abubu,  Hatusua dan marga Leiwaherilla dari Negeri Hutumury setiap datang idul fitri.

Tapur yang berisi bahan makanan, diperuntukkan bagi seluruh masyarakat Tengah Tengah, Abubu, Hatusua dan marga Leiwaherilla dari Hutumury yang datang merayakan lebaran bersama masyarakat Tengah Tengah. Namun makanan  tersebut baru bisa dibagikan setelah dilakukan Khatam Qur'an usai Shalat Isya.

TRADISI MENGARAK TAPUR DAN BEREBUT MAKANAN

Tradisi mengarak Tapur merupakan tradisi yang paling ditunggu oleh masyarakat Negeri Tengah Tengah, Abubu, Hatusua dan juga marga Leiwaherilla dari Hutumury. Tradisi ini sangat ditunggu karena selain meriah, aksi anak-anak muda berpakaian khas Timur Tengah dengan tarian hadratnya juga sangat menghibur. 

Seperti yang terjadi pada Sabtu, 24 Juni 2017, sekira pukul 14.00 waktu Indonesia bagian timur,  anak muda dan tua-tua adat berkumpul di halaman Masjid An-Nikmah yang megah. 

Dengan pakaian serba putih, mereka  membawa sorban khas Timur Tengah dan tifa rebana. Diantara ribuan warga yang berkumpul, terdapat wajah-wajah non Muslim yang datang dari  Abubu, Hatusua dan Hutumury di Jazirah Leitimur Pulau Ambon. 

Sejurus kemudian, merekapun  membentuk formasi. Dengan satu komando, mereka berjalan keliling kampung sambil mempertontonkan tarian hadrat yang atraktif. Irama tetabuhan rebana yang diselingi dengan  dendang syair religy yang atraktif, membuat pawai hari kemenangan di negeri yang memiliki pemandangan alam eksotis ini sangat meriah. Seluruh warga turun ke jalan untuk menyaksikan.

Pada saat yang sama, tapur yang sudah disediakan oleh raja, saniri negeri, imam dan orang-orang kaya, dikeluarkan dari dalam rumah ke tepi jalan. Tapur yang sudah disulap menyerupai perahu hias, dijaga oleh sejumlah pemanggul sebelum dijemput oleh pasukan hadrat. 

Sambil menunggu shalat Ashar, pasukan hadrat melakukan konvoi keliling kampung dengan syair-syair religy yang energik. Setelah shalat Ashar, baru lah tapur-tapur tersebut diarak ke dalam masjid oleh masyarakat satu kampunh hingga memenuhi seluruh ruangan masjid.

Sekira pukul 20.30 waktu setempat atau satu jam setelah shalat Isya, Imam Masjid An-Nikmah,  didampingi raja, saniri negeri, tokoh agama, tokoh adat dan tokoh-tokoh masyarakat,  melakukan prosesi Khatam Qur'an.  

Namun sebelumnya, puluhan tapur yang memenuhi ruangan masjid, dikeluarkan ke pelataran masjid dan dibagi menjadi tiga bagian. Satu bagian untuk masyarakat Negeri Abubu, satu lagi untuk masyarakat Hatusua dan Hutumury, sisanya untuk masyarakat Tengah Tengah.

Sesaat setelah imam masjid menutup doa Khatam Qur'an, dalam sekejap, makanan yang terhidang dalam tapur ludes dan berpindah tempat ke dalam kantong kresek. Aksi berebut makanan pun tak terhindarkan. 

"Siapa cepat dia dapat banyak," girang tante Merry, warga Abubu yang sukses memenuhi dua kantong kreseknya dengan berbagai jenis makanan. Tante Merry bersama puluhan ibu-ibu asal Abubu sengaja menyewa angkutan kota Kudamati dan Air Salobar untuk datang mengambil bagian mereka.

Aksi berebut makanan juga terjadi di bagian tapur yang disediakan untuk masyarakat Hatusua dan Hutumury. Beberapa warga Hutumury yang kurang agresif, terpaksa gigit jari melihat rekannya sukses mendulang makanan dalam 3 kantong kresek. Untungnya, mereka yang kurang agresif, jatah makanan mereka ditambahkan oleh warga Tengah Tengah yang ikut berebut makanan.

"Terima kasih  om pela, tahun depan katong datang lagi," puas tante Lis dari Abubu yang sukses membawa pulang 2 kantong kresek berisi makanan. 

Uniknya, meski terjadi aksi saling berebut makanan, nuansa persaudaraan antar masyarakat tiga negeri beda agama terlihat sangat kental, hingga ada di antara mereka saling berbagi makanan.

TAPUR SEBAGAI PEREKAT HIDUP ORANG BASUDARA

Menurut tokoh masyarakat Negeri Tengah Tengah Ahmad Leurima, Tradisi Tapur merupakan tradisi leluhur yang diwariskan kepada anak cucu Louruhu untuk mempersatukan tiga negeri beda agama. 

"Dulu, biasanya pada saat idul fitri, masyarakat Abubu dan Hatusua datang dengan Arumbai (perahu tradisional-red) untuk mengambil jatah mereka dalam tapur," ujar Leurima.

Namun seiring dengan perkembangan zaman,  masyarakat Negeri Abubu, Hatusua dan Hutumury saat ini, lebih condong menggunakan  transportasi darat, sehingga prosesi penjemputan mereka seperti dulu tidak bisa dilakukan karena umumnya mereka datang atas inisiatif sendiri, bukan dibawah koordinasi pemerintah negeri.

"Kita pinginnya, pada tahun-tahun mendatang, tradisi tapur ini dikoordinasikan langsung oleh Pemerintah Negeri Tengah Tengah, Abubu dan Hatusua, agar makna dan halekat dari tradisi ini benar-benar dirasakan dan dihayati oleh masyarakat tiga negeri," harap Leurima.

BUTUH KEPEKAAN PEMERINTAH

Tradisi Tapur  merupakan salah satu budaya lokal yang tumbuh dan berkembang secara alami dalam kehidupan masyarakat Maluku. Selain tradisi tapur di Negeri Tengah Tengah, tradisi serupa juga dijumpai di Negeri Seith Kecamatan Leihitu, di mana tradisi menghidangkan makanan pada hari raya usai Khatam Qur'an, juga dihadiri masyarakat gandong dari Negeri Ouw di Pulau Saparua.

Tradisi-tradisi lokal seperti ini sepatutnya mendapat perhatian khusus dari pemerintah agar tidak punah dan menjadi perekat hidup orang basudara tanpa rekayasa. 

Sayangnya, sampai saat ini, belum terlihat adanya tanda-tanda pemerintah daerah menjadikan nilai-nilai persaudaraan yang lahir dari rahim pela gandong secara alami sebagai aset berharga yang harus didorong dan dikemas secara universal.

Padahal, di Maluku sendiri, terdapat banyak budaya-budaya pluralis yang tumbuh dan berkembang dalam tatanan hidup masyarakat lokal tanpa rekayasa, seperti persekutuan hidup pela gandong antar negeri Muslim dan Kristen. 

Tradisi panas pela gandong antar negeri muslim dan kristen  yang umum dilakukan pada masa pemerintahan Presiden Soeharto tahun 70-an dan 80-an misalnya, saat ini sangat sulit dilakukan karena masyarakat pela gandong umumnya terbentur dengan masalah biaya yang harusnya difasilitasi pemerintah Indonesia

Olehnya, untuk menyelamatkan bangsa ini dari ancaman krisis identitas dan krisis kebhinnekaan, tak dapat tidak, pemerintah melalui instansi terkait, termasuk Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT), seyogyanya ikut berkontribusi dalam menyokong budaya-budaya lokal agar bangsa ini tetap eksis sebagai bangsa yang berbudaya dan berbhinneka tunggal ika. (AL/WDA)

taken from http://rri.co.id/post/berita/407376/feature/tapur_untuk_3_negeri_beda_agama_di_hari_nan_fitri.html

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sambut HUT Polwan ke-69, Bagi 500 Coklat dan 300 Bunga Kepada Pengendara yang Melintas

Pentolan Abu Sayyaf Tewas dalam Operasi Militer Filipina

Ujicoba Simpang Susun Semanggi Ditargetkan Juli Ini