PBB dan Pengoperasian Kembali Bandara Udara Sanaa

Krisis kemanusiaan di Yaman mendorong Ismail Ould Cheikh Ahmed, utusan khusus Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk Yaman menekankan urgensitas pembukaan segera bandara udara internasional Sanaa.

Ould Cheikh Ahmed Rabu (10/8) menuntut pengoperasian segera bandara udara Sanaa untuk meringankan penderitaan dan kesulitan warga Yaman.

Minggu ke 29 perang yang dikobarkan Arab Saudi di Yaman berakhir. Perang tidak seimbang ini meletus sejak Maret 2015. Hasil dari perang ini adalah tragedi kemanusiaan. Tragedi ini mencakup pembantaian warga sipil dan ribuan lainnya cidera. Selain itu, juga mengakibatkan arus pengungsian, merebaknya wabah kolera serta hancurnya infrastruktur di Yaman.

Namun begitu, ini bukan satu-satunya dampak yang ditimbulkan perang di Yaman. Peran ini juga mengakibatkan dampak yang tak nyata dan di antaranya adalah tewasnya orang tua anak-anak dan terbengkalainya pendidikan mereka.

Apa yang melebiji kekahawatiran di Yaman untuk saat ini dan membutuhkan penanganan segera adalah acaman kematian ratusan ribu orang akibat kelaparan dan wabah kolera serta beragam penyakit lainnya. Lebih dari 20,7 juta jiwa warga Yaman, yakni 73 persen dari total populasi negara ini yang mencakup 11,3 juta anak-anak, membutuhkan bantuan segera.

Lebih dari 1,8 juta anak-anak yang 400 ribu di antaranya berusia di bawah lima tahun (balita) mengalami gizi buruk dan terancam kematian. 15,7 juta rakyat Yaman membutuhkan air bersih dan 14,8 juta lainnya tidak dapat mengakses pelayanan kesehatan atau aksesnya sangat terbatas. 17 juta warga Yaman juga menghadapi instabilitas ketahanan pangan. Lebih dari dua juta orang di dalam negeri Yaman kehilangan tempat tinggal dan mengungsi, serta satu juta di antaranya adalah anak-anak. Kondisi ini menimbulkan penyebaran penyakit mematikan seperti kolera di antara warga Yaman.

Meski kondisi di Yaman sangat mengenaskan, bandara udara internasional Sanaa sejak Agustus 2016 hingga kini, yakni satu tahun lalu, telah ditutup. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa penutupan bandara udara ini juga berpengaruh pada munculnya kondisi seperti ini, karena bukan saja tidak ada peluang pengiriman bantuan makanan dan obat-obatan ke Yaman melalui bandara udara ini, bahkan pasien yang kondisinya kritis juga tidak dapat dibawa keluar melalui bandara ini untuk menjalan perawatan medis.

Kematian setiap hari sekitar 2000 orang akibat wabah kolera mendorong Ismail Ould Cheikh Ahmed menekankan pentingnya pengoperasian kembali bandara udara Sanaa. Meski demikian Turki bin Saleh al-Maliki, juru bicara koalisi Arab anti Yaman mengklaim bahwa alasan penutupan bandara udara Sanaa adalah kekhawatiran atas keamanan penerbangan pesawat sipil serta mencegah penyelundupan senjata oleh milisi Ansarullah.

Poin penting di sini adalah utusan khusus PBB untukYaman ketika menekankan pentingnya pengoperasian kembali bandara udara Sanaa, Dewan Keamanan PBB melaluai resolusinya dapat mengharuskan Arab Saudi dan sekutunya membuka kembali bandara ini.

Sikap pasif Dewan Keamanan PBB terkait krisis Yaman ketika Arab Saudi tatap bertekad melanjutkan perang ini, dengan baik menunjukkan kepatuhan PBB dan pilar terpentingnya yakni Dewan Keamanan atas kepentingan kekuatan Barat dan sekutunya di Timur Tengah. Ini mengungkapkan teori yang dipaparkan Neorealisme terkait hubungan internasional, "PBB Alat bagi Kekuatan Besar Dunia". (MF)

taken from http://parstoday.com/id/news/middle_east-i42630

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sambut HUT Polwan ke-69, Bagi 500 Coklat dan 300 Bunga Kepada Pengendara yang Melintas

Pentolan Abu Sayyaf Tewas dalam Operasi Militer Filipina

Ujicoba Simpang Susun Semanggi Ditargetkan Juli Ini