Asih Nur Candra Demi Keadilan bagi Pekerja Rumah Tangga

MI/Ardi

HARI menjelang petang ketika saya bertemu dengannya di Alun-Alun Sewandanan, Kadipaten Pakualaman, Kota Yogyakarta, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), Rabu (26/7). Tidak ada yang istimewa dari penampilannya, namun pembawaannya yang tenang sangat terpancar. Asih Nur Candra namanya. Di balik pembawaannya yang tenang, perempuan kelahiran Sukoharjo ini ialah sosok yang gigih dan berani saat memperjuangkan hak-hak perempuan, khususnya pekerja rumah tangga (PRT). Sejak 1997, Candra demikian ia biasa dipanggil, telah menjadi aktivis buruh di Solo.

Dari situ, Candra memperluas jaringannya, hingga sejak 2003 mulai fokus di Jaringan Perlindungan Pekerja Rumah Tangga (JPPRT). Keputusannya fokus pada isu pekerja rumah tangga karena melihat kenyataan, para pekerja rumah tangga (PRT) kurang mendapat perlindungan. "Dari penyebutannya saja sudah tidak melindungi. Masyarakat umum masih banyak menyebut pembantu rumah tangga, bukan pekerja rumah tangga," kata perempuan 42 tahun ini. Penyebutan pembantu rumah tangga dinilai bermasalah. Terminologi pembantu berbeda dengan pekerja.

Sebutan pekerja berarti memiliki hak-hak dan perlindungan yang melekat kepada profesi tersebut. Adapun pembantu hanya dianggap sebagai jasa yang membantu sehingga tidak memiliki perlindungan dan hak-hak sebagai pekerja. Sejak bergabung dengan JPPRT, Candra mengaku banyak menemui kasus tindakan semena-mena majikan terhadap para PRT. Diantaranya adalah kasus PRT tidak dibayar, pemerkosaan dan penganiayaan PRT. Di Bantul, misalnya terdapat sebuah kasus pemrkosaan terhadap PRT yang kemudian menyebabkan kehamilan.

PRT tersebut juga tidak diperkenankan pulang bertahun-tahun. Kasus tersebut baru terungkap setelah sang keluarga mencari. Sayangnya, kekejian sang majikan tidak ditindaklanjuti secara hukum karena korban yang trauma sudah tidak ingin memperpanjang kasus. Candra menyebut, perempuan PRT paling rawan menerima ketidakadilan, dari ketidakjelasan kontrak kerja, tugas-tugas yang harus dikerjakan, hingga waktu kerja. "PRT perempuan semakin rentan terhadap ketidakadilan karena banyak dari PRT Perempuan tidak berpendidikan. Akibatnya, mereka tidak tahu langkah-langkah yang harus dilakukan apabila menerima ketidakadilan," papar Candra.

Untuk memberdayakan para PRT perempuan, ia bersama JPPRT melakukan berbagai kegiatan, yang meliputi pengorganisasian, pendidikan serta advokasi dan kampanye kepada para PRT, terutama PRT perempuan. Langkah pengorganisasian dilakukan dengan membentuk serikat-serikat PRT. Lewat serikat itu, Candra dan jaringan kemudian memberi penyuluhan kesehatan reproduksi, dan hak-hak pekerja. Tidak hanya itu, mereka juga mengampanyekan perlindungan PRT secara luas, baik ke tingkat eksekutif, legislatie, maupun masyarakat umum.

Telah beberapa waktu ini, Candra dan rekan-rekannya juga berjuang untuk lahirnya Undang-undang perlindungan PRT. Dengan cara itu diharapkan nasib PRT, terutama PRT perempuan, dapat sejajar dengan pekerja di sektor lain.

Pengalaman Kekerasan
Besarnya perhatian Candra pada isu perempuan, rupanya berangkat dari pengalaman pahitnya di masa remaja. "Saya pernah menjadi korban kekerasan seksual," terang Candra kembali mengingat masa-masa kelamnya. Tampak kenangan pahit itu belum bisa dilupakannya. Secara perlahan-lahan, ia membuka ingatan kejadian sekitar 20an tahun yang lalu. Saat itu, ketika usianya masih belasan tahun, ia mengalami kekerasan seksual oleh orang orang dewasa yang tinggal di dekat rumahnya. Sekitar 10 tahun berlalu, kenangan pahit yang disimpannya rapat ternyata tidak dapat terlupakan, bahkan semakin meninggalkan luka.

Candra merasa kekerasan seksual itu membyuat dirinya kotor. Beruntung, semakin beranjak dewasa, Candra mulai menyadari bahwa menyimpan sendiri pengalaman kekerasan seksual telah berakibat buruk pada perkembangan jiwanya. Candra merasa susah berkomunikasi dengan laki-laki dan menilai bahwa memiliki stigma buruk terhadap lawan jenis. "Ketika saya punya teman laki-laki, saya merasa laki-laki itu jahat," kata dia. Tidak ingin terus terpuruk, Candra mulai memberanikan diri untuk bercerita kepada teman dekatnya.

Ia disarankan untuk konseling ke Rifka Annisa, sebuah organisasi konseling psikologis dan konsultasi hukum perempuan dan anak. Dari situ, Candra mendapat pencerahan. Ia mendapat pemahaman bahwa hukum semestinya ditegakkan pada pelaku kekerasan seksual. Selain itu, korban tidak semestinya mendapat penghukuman, termasuk penghukuman dari diri sendiri. Semenjak mendapat pemahaman dan kepercayaan diri kembali, Candra pun lebih peka terhadap hak-hak perempuan dan juga tindak kekerasan yang rawan dialami kaumnya.

Ia terpanggil untuk ikut membantu perjuangan hak tersebut. Paling tidak, ia ingin mengajak perempuan untuk berani bersuara terhadap hak-haknya sendiri. Dengan cara itu, kekerasan seksual juga dapat dicegah. Candra pun menanamkan pemahaman yang sama pada sang buah hati. Ia ingin semenjak kecil, orang telah diajarkan tentang pentingnya melawan ketidakadilan. (M-3)

taken from http://mediaindonesia.com/news/read/115839/asih-nur-candra-demi-keadilan-bagi-pekerja-rumah-tangga/2017-08-03

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sambut HUT Polwan ke-69, Bagi 500 Coklat dan 300 Bunga Kepada Pengendara yang Melintas

Pentolan Abu Sayyaf Tewas dalam Operasi Militer Filipina

Ujicoba Simpang Susun Semanggi Ditargetkan Juli Ini