THINK

MI/Permana

BULAN puasa sudah berjalan beberapa hari, saya yakin kita sudah terbiasa menahan lapar, haus, dan bisa mengendalikan hawa nafsu.

Dalam hal ini ada teman saya yang full selama bulan puasa ini juga berpuasa media sosial.

Alasan dia ialah banyak hal di sana yang bisa membuat pahala puasa berkurang.

Ada benarnya juga sih.

Kita memang tidak bisa mengontrol posting-an orang yang kita follow, tapi setidaknya kita bisa mengontrol apa posting-an kita.

Pada bulan puasa ini saya perhatikan jumlah kicauan dan status 'sakit' jauh berkurang jika dibandingkan dengan bulan biasa.

Karena itu, saya punya ide bagaimana kalau pilkada itu dilakukan setiap Ramadan saja.

Dalam kondisi ideal smart phone harusnya digunakan smart people.

Namun, faktanya dalam penggunaan media sosial masih banyak orang bodoh, pura-pura bodoh, dan masa bodoh.

Bisa membedakannya kan?

Supaya kita bisa bermedia sosial pada Ramadan ini tanpa jadi mengurangi pahala, sebelum posting lakukanlah THINK (true, helpful, inspiring, necessary, kind).

Yang pertama 'is it true?'.

Begitu banyak hal yang tidak benar yang beredar di sosial media.

Ada yang berasal dari akun personal yang namanya jelas, ada juga yang anonim. Motifnya macam-macam, ada yang tujuannya memang fitnah, black campaign, hoax, dan masih banyak lainnya.

Hal itu disebabkan ternyata banyak yang cari penghasilan dengan melakukan hal ini.

Jangan sembarangan meneruskan kabar.

Pikir dulu pakai akal sehat, rasakan dengan hati nurani, lalu recheck kebenarannya, jika memang berita itu benar, silakan posting.

Kedua 'is it helpful?'.

Kelemahan bahasa tulisan dalam media sosial ialah tidak adanya emosi di dalamnya.

Yang posting maksudnya ke mana, yang baca menerimanya ke mana.

Belum lagi yang memberi comment, duh kadang kalau lihat bahasanya, suka ngelus dada saya.

Saya enggak bisa membayangkan jika saya jadi artis yang banyak hater-nya.

Bisa stres sampai tutup akun.

Jadi, jika posting-an kita tidak bisa 'membantu' orang lain dan mungkin hanya memperkeruh suasana, lebih baik urungkan saja.

Buat apa?

Ketiga 'is it inspiring?'.

Setelah menulis sesuatu untuk sosial media, sebelum memencet tombol post, saya pasti baca dulu berkali-kali.

Jika saya anggap itu aman dan berarti, baru saya posting.

Jika tidak, saya ganti kata atau kalimatnya atau bahkan saya urungkan niat saya posting.

Itu sering saya lakukan he he he. Alhamdulillah, hidup saya tenang meskipun aktif bermedia sosial.

Sedikit posting, tapi inspiring.

Lalu 'is it necessary?'.

Saya bukan selebtwit atau selebgram, yang rajin posting setiap saat.

Saya hanya posting hal-hal yang saya anggap perlu saja.

Saya tidak haus di-like, tidak sakau di-retweet, dan tidak lapar di-repost.

Ada orang di media sosial saya yang posting rasanya setiap menit hanya demi ngejar itu.

Terakhir 'is it kind?'.

Ingat, dalam media sosial ada rekam jejak digital kita meskipun kita telah menghapusnya.

Kalau kita rasakan bakal posting-an kita memang baik, ya silakan di-posting; jika tidak, ya jangan. Because what happens on social media stays on google forever.

Not everybody will like the things you share online, but everybody will read them. So let's THINK before we post it, OK!

taken from http://mediaindonesia.com/news/read/107320/think/2017-06-03

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sambut HUT Polwan ke-69, Bagi 500 Coklat dan 300 Bunga Kepada Pengendara yang Melintas

Pentolan Abu Sayyaf Tewas dalam Operasi Militer Filipina

Ujicoba Simpang Susun Semanggi Ditargetkan Juli Ini