Ramadhan, Bulan Tuhan (17)

Tausiyah Ramadhan Bulan Ramadhan adalah waktu untuk menghidupkan malam dengan ibadah, zikir, dan tasbih. Detik-detik iftar dan waktu sahar (menjelang subuh) merupakan waktu terbaik untuk berdoa dan memohon ampunan kepada Allah Swt.

Perlu diingat bahwa manusia dengan amal ibadah dan akhlak mulia dapat mencapai jalan kebahagiaan. Dalam pergaulan sosial, orang-orang saleh akan berinteraksi dengan pihak lain dengan akhlak mulia dan tawadhu. Mereka bahkan memperlakukan orang-orang yang menghinanya dengan sopan dan tetap bertegur sapa.

Dalam surat al-Furqan ayat 63-65, Allah Swt berfirman, "Dan hamba-hamba Tuhan yang Maha Penyayang itu (ialah) orang-orang yang berjalan di atas bumi dengan rendah hati dan apabila orang-orang jahil menyapa mereka, mereka mengucapkan kata-kata (yang mengandung) keselamatan. Dan orang yang melalui malam hari dengan bersujud dan berdiri untuk Tuhan mereka. Dan orang-orang yang berkata: "Ya Tuhan kami, jauhkan azab jahannam dari kami, sesungguhnya azabnya itu adalah kebinasaan yang kekal."

Seorang hamba yang menganggap alam semesta dan makhluknya sebagai manifestasi dari kekuasaan dan hikmah Tuhan, ia tidak akan memandang orang lain dan lingkungan sekitar dengan sombong, tapi melihatnya dengan tatapan penuh cinta dan pujian. Individu seperti ini memandang kelebihan yang dimilikinya sebagai karunia dan rahmat Allah Swt.

Imam Ali as berkata, "Ada tiga hal yang akan mengundang kasih sayang orang lain yaitu, kesalehan, tawadhu, dan pemaaf." Siapa sangka sikap tawadhu dan toleran dengan orang lain akan membuka pintu hidayah dan membuat hati mereka condong pada kebenaran.

Tentu ada perbedaan jauh antara tawadhu dan perasaan hina di hadapan orang lain. Dalam perspektif Islam dan juga ilmu psikologi, perasaan hina dan papa bersumber dari lemahnya karakter seseorang dan ini merupakan sifat tercela. Imam Ali as ketika menggambarkan karakter orang mukmin berkata, "Orang mukmin itu lembut dan penyayang, jiwanya lebih keras dari batu karang, tapi (dalam urusan ibadah) ia lebih rendah diri dari seorang budak."

Tawadhu yang terpuji merupakan kerendahan hati yang bersumber dari kebesaran jiwa, bukan kehinaan yang datang dari kekurangan dan kelemahan. Ada perbedaan yang sangat jauh antara tawadhu yang bersumber dari kekuatan dan rendah diri karena kelemahan. Hakikat tawadhu adalah sikap rendah hati karena ingin menghormati orang lain. Ini merupakan sifat terpuji yang dapat diperkokoh dengan cepat selama bulan Ramadhan.

Kajian Tafsir

Pada segmen ini, kami telah memilih ayat 132 surat Thaha sebagai tema kajian tafsir kita. Allah Swt berfirman, "Dan perintahkanlah kepada keluargamu mendirikan shalat dan bersabarlah kamu dalam mengerjakannya. Kami tidak meminta rezeki kepadamu, Kami-lah yang memberi rezeki kepadamu. Dan akibat (yang baik) itu adalah bagi orang yang bertakwa."

Ayat ini memerintahkan Rasulullah Saw untuk memohon pertolongan melalui shalat dan benar-benar bersabar dalam mengerjakannya serta mengajak seluruh anggota keluarga untuk mendirikan shalat. Manusia dalam shalatnya memohon pertolongan kepada Allah Swt dengan ucapan, "Hanya Engkaulah yang kami sembah, dan hanya kepada Engkaulah kami meminta pertolongan."

Pada dasarnya, shalat akan memenuhi kebutuhan esensial manusia kepada sebuah Dzat yang mampu memberi perlindungan; sebagaimana seorang anak berlindung kepada ibunya. Dalam shalat, manusia berlindung kepada Tuhan yang maha kuasa dan maha kaya sehingga jiwanya menjadi tentram.

Shalat merupakan salah satu ibadah wajib. Shalat yang khusyu akan menjadi sarana manusia untuk membangun kontak dengan Allah Swt dan mengantarkan mereka pada derajat spiritual yang tinggi. Ia adalah tali yang menghubungkan seluruh eksistensi manusia dengan alam malakut.

Shalat adalah media untuk mengembangkan aspek spiritual manusia. Allah Swt telah menyiapkan sarana untuk mencapai ketinggian jiwa dan kesempurnaan, dan hal ini dapat dicapai dengan ibadah serta meninggalkan semua keburukan. Mengenai ibadah shalat, Imam Ali Zainal Abidin as-Sajjad as mengingatkan bahwa selama shalat tidak dilakukan dengan benar, maka ia hanya akan menjadi sebuah ibadah lahiriyah dan tidak punya pengaruh apapun. Ruhnya shalat adalah rasa khusyu ketika bermunajat. Salah satu pengaruh utama shalat adalah keterjagaan dari dosa dan maksiat serta kecenderungan ke arah kebaikan.

Kita juga diperintahkan untuk mengajak keluarga mendirikan shalat. Perintah ini menunjukkan betapa beratnya tanggung jawab yang dipikul oleh orang tua dalam mendidik anaknya. Keluarga memainkan peran penting dalam membentuk sebuah masyarakat religius. Tentu saja, individu yang mengerjakan shalat memiliki kesiapan lebih besar untuk konsisten menjaga hak-hak orang lain dan melindungi nilai-nilai sosial di masyarakat.

Tips Sehat Menjalani Puasa

Tips kesehatan hari ini masih seputar pentingnya makan sahur bagi orang yang berpuasa. Orang-orang yang tidak makan sahur akan kehilangan kemampuan berpikir dan kekuatan fisik secara signifikan pada jam-jam setelah dzuhur. Mereka yang makan sahur juga perlu memperhatikan jenis makanan yang dikonsumsi sehingga tidak membuat lesu dan kehilangan semangat di siang hari.

Kepala Institut Pangan dan Gizi di Iran, Dokter Sayid Ziaeddin Mazhari mengatakan, "Konsumsilah sayuran mentah dan yang sudah dimasak untuk menu sahur dan hindari minuman bersoda. Sayuran menyediakan nutrisi yang membantu tubuh untuk tetap terhidrasi dan tidak cepat haus. Alangkah lebih baik jika mengkonsumsi makanan hangat rendah lemak dan rendah gula untuk menu sahur."

Untuk menghindari rasa lapar, kata Dokter Sayid Mazhari, maka makanlah makanan yang mengandung karbohidrat kompleks seperti, kentang, nasi, gandum, dan kacang-kacangan. Sementara mengkonsumsi makanan yang manis atau asin dan kaya lemak, justru akan mempercepat rasa haus di sepanjang hari. Untuk menu sahur, sangat disarankan untuk mengkonsumsi sayuran segar, ikan, daging, dan telur. Dokter Sayid Mazhari juga meminta orang-orang yang berpuasa untuk mengurangi konsumsi garam di waktu sahur.

Salah satu pelajaran Ramadan adalah masalah rezeki yang halal. Nilai ibadah puasa juga terletak pada kesucian dan kehalalan makanan yang dikonsumsi untuk sahur dan berbuka. Menurut Islam, rezeki yang halal sangat membantu manusia untuk mematuhi perintah-perintah agama. Imam Jakfar Shadiq as berkata, “Jangan pernah meninggalkan usaha untuk mencari rezeki halal, karena itu akan membantumu dalam beragama. Ikat tungganganmu dan bertawakallah.”

Rezeki halal memiliki pengaruh besar dalam realitas keberadaan manusia serta dalam membentuk raga dan jiwanya. Ia juga memainkan peran vital dalam mengembangkan potensi baik dan menumbuhkan niat baik dalam diri manusia. Salah satu doa yang banyak diserukan selama bulan Ramadan adalah meminta rezeki yang halal. Seperti disebut dalam doa sahar ini, “Ya Tuhanku! Aku memohon kepada-Mu berilah untukku rezeki yang halal dan suci.”

taken from http://parstoday.com/id/radio/programs-i39340

Komentar

Pos populer dari blog ini

Pentolan Abu Sayyaf Tewas dalam Operasi Militer Filipina

Ujicoba Simpang Susun Semanggi Ditargetkan Juli Ini

Beredar Tiket Palsu, Panpel PS TNI Janji Perbaiki Kinerja