Mengenal Peneliti Indonesia Ben Anderson


Foto : istimewa

Judul : Hidup di Luar Tempurung

Penulis : Benedict Anderson

Penerbit : Marjin Kiri

Cetakan : Pertama, Juni 2016

Tebal : 205 halaman

ISBN : 978-979-1260-59-6

Sejauh ini, buku biografi atau otobiografi kebanyakan hanya mengangkat orang-orang penting dalam politik, tokoh-tokoh revolusi di zamannya, atau figur-figur publik yang sudah barang tentu digemari para idola fanatiknya. Juga yang paling sering dijumpai, biografi para pengusaha dengan segudang motivasi bisnis dan hidupnya. Atau yang agak nyentrik, biografi tentang seniman dengan segala pencapaian artistiknya.

Karya ini sedikit berbeda dari catatan otobiografi pada umumnya. Mengangkat tokoh besar intelektual, peneliti populer yang punya sumbangsih besar terhadap kajian-kajian tentang Indonesia. Ia adalah Benedict Richard O’Gorman Anderson atau yang akrab dikenal dengan Ben Anderson.

Buku berjudul Hidup di Luar Tempurung merupakan terjemahan dari A Life Beyond Boundaries. Sebuah memoar yang ditulis sendiri oleh mendiang Ben Anderson, sang intelektual. Ini salah satu karya biografi yang paling mudah dan menyenangkan untuk dipahami.

Ben memetakan perjalanan kariernya sebagai akademikus dalam enam siklus kehidupannya: masa muda yang terus berpindah, kajian wilayah, kerja lapangan, kerangka perbandingan, interdisipliner, hingga pensiun dan pembebasan.

Penulis karya monumental Imagine Communities ini lahir di Kunming, Tiongkok, pada 26 Agustus 1936, pada malam menjelang invasi besar-besaran Jepang atas Tiongkok Utara. Ayahnya seorang prajurit Inggris yang bekerja pada badan Chinese Maritime Customs Service (CMSC), sedangkan ibu kandungnya orang Inggris tulen. Ia seorang ahli hukum, dengan spesialisasi hukum niaga dan pelayaran. Namun, Ben lebih memilih Irlandia sebagai kewarganegaraanya, dengan berbagai alasan politik serta personal tentunya.

Ben mengenyam pendidikan menengah atas di Eton, kemudian mendapat beasiswa untuk Studi Klasik di Universitas Cambridge pada tahun 1950-an. Lulus dari Cambridge perjalanan karier akademik seorang Ben Anderson tak langsung berjalan mulus begitu saja. Ia sempat mengalami kegalauan akan masa depannya. Ibunya juga ikutan ketar-ketir. Hingga pada waktunya tiba, keberuntungan itu datang.

Dia masih berhubungan dengan sejumlah kawan penerima beasiswa di Eton, dan suatu hari menerima surat dari salah satunya, Richard Kennaway, yang memegang posisi di Universitas Cornell, New York. Ia memberitahu bahwa sembari menunggu panggilan dari dinas kolonial Inggris tahun berikutnya, ditawari pekerjaan semantara sebagai asisten dosen di departemen pemerintahan Universitas Cornell (hal 23).

Ben banyak melakukan riset lapangan di Indonesia, Thailand, dan Filipina. Namun, yang menarik bagi Ben dari pengalaman kerja-kerja lapangannya sebagai peneliti adalah ia jatuh hati pada Indonesia.

Indonesia adalah cinta pertamanya. Dia bisa bicara dan membaca Thai dan Tagalog, tapi bahasa Indonesia benar-benar bahasa keduanya dan satu-satunya bahasa selain Inggris yang bisa dipakai menulis dengan lancar dan penuh nikmat (hal 63). 

Diresensi Gunawan Wibisono, Mahasiswa Pascasarjana UNS

taken from http://www.koran-jakarta.com/mengenal-peneliti-indonesia-ben-anderson/

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sambut HUT Polwan ke-69, Bagi 500 Coklat dan 300 Bunga Kepada Pengendara yang Melintas

Pentolan Abu Sayyaf Tewas dalam Operasi Militer Filipina

Ujicoba Simpang Susun Semanggi Ditargetkan Juli Ini