Merajut Perdamaian lewat 10 Ribu Burung Origami

Sejumlah relawan memasang instalasi seni melipat kertas bertema Seribu origami burung perdamaian di depan Gedung Balai Kota DKI Jakarta, Sabtu (27/5). Aksi solidaritas tersebut sebagai bentuk keprihatinan terhadap berbagai peristiwa. -- MI/Ramdani

ENDANG Puji Nurmawati, 58, tak kuasa lagi menahan air matanya saat lagu Tanah Air dinyanyikannya bersama ratusan orang di depan pendopo Balai Kota Jakarta, kemarin.

Hatinya remuk karena harus menyanyikan lagu itu di saat persatuan di atas kemajemukan bangsa ini mulai terkikis hanya gara-gara persoalan pilkada. Hanya gara-gara pilihan politik, saat ini banyak orang yang mudah tersulut kebencian dan saling membedakan.

“Sedih rasanya melihat kondisi bangsa yang sekarang mudah sekali tersulut kebencian, saling menghujat, dan menyakiti karena perbedaan seperti sekarang. Padahal, Pancasila itu diciptakan untuk menyatukan perbedaan,” ujarnya.

Perempuan asal Semarang itu hadir pagi-pagi sekali di Kantor Gubernur DKI Jakarta untuk ikut dalam aksi Seribu origami burung perdamaian. Bersama ratusan simpatisan lainnya, ia melipat puluhan ribu kertas.

Alhasil, puluhan ribu burung dari kertas putih berhasil dibuat di pagi itu. Burung-burung itu kemudian digantungkan di kayu bambu untuk ditunjukkan kepada masyarakat bahwa perdamaian dan persatuan itu masih ada di Indonesia.

“Saya berharap tidak ada lagi kepentingan politik yang akhirnya memecah persatuan bangsa. Jangan ada lagi yang menggunakan kedok agama demi mencapai kekuasaan,” harap Endang.

Koordinator aksi Suzanna Marlin mengaku memilih aksi dalam kegiatan origami berbentuk burung itu karena dua hal. Pertama, origami ialah seni melipat kertas yang membutuhkan kesabaran, ketelitian, dan ketulusan hati. “Sepertinya gampang karena cuma melipat-lipat kertas. Namun, ketika harus dibuat untuk menjadi berbentuk sesuatu, ternyata sulitnya bukan main. Jadi, di sini butuh kesabaran,” terang dia.

Kedua, burung putih ialah simbol perdamaian. “Pesan yang ingin disampaikan dari kegiatan ini ialah mari kita bersabar dan tulus untuk mempertahankan bumi Indonesia yang damai. Tidak bisa membuat Indonesia yang damai dengan cara yang instan,” ujarnya.

Suzanna menuturkan masyarakat saat ini tengah merindukan kembalinya kedamaian yang pernah ada, kedamaian yang tercipta karena adanya sikap yang saling menghargai perbedaan.

“Perdamaian itu sebenarnya masih ada dan harus tetap ada. Gesekan yang ada saat ini akibat belum matangnya masyarakat dalam berpolitik sehingga mudah diadu domba,” ujarnya.

Ia mengaku cukup terkejut atas respons masyarakat yang berpartisipasi dalam aksi itu. Mulanya ia hanya menargetkan aksi itu menghasilkan 1.000 origami. Faktanya, 10 ribu origami dapat dibuat di pagi itu.

“Kita sampai bingung bagaimana mau menatanya. Kami benar-benar tidak menyangka,” kata Suzanna.
Lebih kagetnya lagi saat ia mengetahui asal para peserta aksi itu. Ternyata para pembuat origami tersebut tak hanya datang dari Jabodetabek.

Ada yang datang dari Semarang, Bali, Surabaya, Surakarta, Bandung, dan Kalimantan Timur.

“Ini sebagai bukti bahwa masyarakat inginkan kedamaian itu kembali. Kami percaya kedamaian dan persatuan itu bisa kita ciptakan lagi dengan lebih baik,” tandasnya.

Dengan adanya kegiatan itu, Suzanna berharap perdamaian di NKRI terus dapat terpelihara dan terjaga dengan baik.

“Perdamaian itu diciptakan. Tugas kita menciptakan dan mempertahankan perdamaian. Jangan mau kita tercerai-berai hanya untuk kepentingan kekuasaan sesaat,” ucapnya. (Sri Utami/J-1)

taken from http://mediaindonesia.com/news/read/106500/merajut-perdamaian-lewat-10-ribu-burung-origami/2017-05-28

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sambut HUT Polwan ke-69, Bagi 500 Coklat dan 300 Bunga Kepada Pengendara yang Melintas

Pentolan Abu Sayyaf Tewas dalam Operasi Militer Filipina

Ujicoba Simpang Susun Semanggi Ditargetkan Juli Ini