Bab 3: Kisah-Kisah Tentang Anak (Bagian 2)

Bantulah Anak Dalam Kebaikan dan Perbuatan Baik

Rasulullah Saw bersabda, “Semoga Allah merahmati orang yang membantu anaknya dalam kebaikan dan perbuatan baik.”

Perawi hadis bertanya, “Bagaimana caranya membantu anak dalam kebaikan?”

Sebagai jawaban, Rasulullah memberikan empat aturan:

1. Terimalah apa yang dilakukan oleh anak sesuai dengan kekuatan dan kemampuannya.

2. Jangan menuntut anak untuk mengerjakan sesuatu yang menurutnya berat dan di luar kemampuannya.

3. Jangan memaksanya untuk melakukan dosa dan pelanggaran.

4. Jangan berbohong kepadanya dan jangan bersikap bodoh di hadapannya. (al-Hadis, jilid 3, hal 75)

Celakalah Anak-Anak Di Akhir Zaman

Rasulullah Saw melihat sebagian anak dan bersabda, “Celakalah anak-anak di akhir zaman karena ayah-ayahnya.”

Dikatakan, “Wahai Rasulullah! Karena ayah-ayahnya yang musyrik?”

Beliau bersabda, “Tidak. Karena ayah-ayahnya yang muslim yang tidak mengajarkan kewajiban agama kepada mereka. Bila anak-anaknya berhasil mempelajari sedikit masalah agama, mereka melarang anak-anaknya dari melaksanakan kewajiban yang suci ini. Cukup bagi mereka anak-anaknya mendapatkan harta dunia yang tidak seberapa. Aku berlepas tangan dari ayah-ayah semacam ini dan mereka ini jauh dariku.” (al-Hadis, jilid 3, hal 75)

Anak perempuan Adalah Bunga

Seorang lelaki muslim duduk di sisi Rasulullah Saw. Tiba-tiba datang seorang Arab dan membisikkan sesuatu di telinganya. Langsung wajah lelaki ini berubah, sampai akhirnya Rasulullah Saw bertanya, “Mengapa engkau sedih?”

Dia menjawab, “Ketika saya mau keluar dari rumah, istri saya dalam kondisi mau melahirkan. Sekarang saya baru tahu kalau dia melahirkan anak perempuan. Oleh karena itu hati dan jiwaku trenyuh dan sakit.”

Rasulullah Saw bersabda, “Bumi yang mengangkatnya, langit yang menaunginya dan Allah yang memberi rezekinya dan dia adalah bunga dan engkau yang menciumnya.”

Pengaruh Buruk Air Susu Yang Haram

Almarhum Hujjatul Islam Akhound-e Qommi pemilik karya Ta’lighe Rasael Syeikh Anshari berkata:

Di masa Mirza Bozourg, saya tinggal di Sarra Man Ra’a (Samarra). Suatu hari di tengah jalan saya bertemu dengan almarhum Haj Syeikh Fadhlullah Nouri. Dia sangat panik dan depresi. Saya bertanya dan dia menjawab, “Beberapa waktu yang lalu Allah telah menganugerahkan seorang anak kepadaku. Kebetulan ibunya tidak punya air susu. Kami mencari wanita yang bisa menyusui. Akhirnya kami menemukan seorang wanita dan dia menyusui anak kami. Sekarang setelah beberapa lama, kami baru tahu kalau wanita ini orang yang tidak baik dan pembenci Ahlul Bait Rasulullah Saw. Oleh karena itu aku sangat panik dan memikirkan apa yang harus aku lakukan terhadap anak ini.

Anak ini sekarang sudah besar, dan akibat perbuatannya sampai pada batas membantu pembunuhan terhadap ayahnya. Bahkan dia bertepuk tangan. Akibatnya dia termasuk anak yang durhaka dan dia terbunuh secara mesterius, sampai di akhirat apa yang terjadi nanti. (Huquq walidain, hal 330)

Ibu Syeikh Murtadha Anshari

Almarhum Syeikh Murtadha Anshari pemilik dua karya yang sangat berharga; Makasib dalam fikih dan buku Faraid dalam ushul. Kedua karya ini sebagai tangga menuju ijtihan dan para pelajar agama di hauzah ilmiah, tidak akan mencapai derajat ijtihad sebelum membaca dua buku ini.

Ketika beliau mencapai derajat ijtihad dan menjadi marji, masyarakat mengucapkan selamat kepada ibunya, “Anakmu telah mencapai derajat ijtihad dan marjaiyat.”

Ibu yang layak ini berkata, “Mengingat jerih payah yang aku hadapi dalam mendidik anakku,  aku tidak akan heran bila anakku mencapai derajat kenabian, apalagi hanya sekedar derajat ijtihad.”

Masyarakat merasa takjub mendengar ucapan ini dan muncul pertanyaan baru, “Memangnya apa yang engkau lakukan dalam mendidik anakmu yang tidak dilakukan oleh orang lain?”

Dia menjawab, “Belum tentu kalian mampu mendengarkan dan bersabar memahami jerih payahku. Tapi aku memberikan sebagian contohnya supaya kalian tahu bahwa selama aku menyusui anakku, aku tidak pernah meletakkan mulutnya ke susuku tanpa wudhu.” (Goftar Wo’az, jilid 1, hal 211)

Pengaruh Makanan Haram Terhadap Anak

Allamah Muhammad Taqi Majlisi mengerjakan salat di masjid Jami Isfahan. Suatu malam beliau membawa anaknya; Muhammad Baqir Majlisi ke masjid. Dia tidak boleh masuk ke masjid dan duduk di halaman masjid. Ketika ayahnya sudah masuk ke masjid, dia melubangi kantong [tempat] air dan bermain dengan air yang mancur darinya.

Setelah salat ayahnya mengetahui kabar anaknya dan benar-benar tidak suka. Kemudian pulang ke rumah dan berkata kepada istrinya, “Aku benar-benar berusaha dalam menjaga makanan dan tata krama Islam sebelum dan sesudah terjadinya pembuahan nutfah juga dalam masa kanak-kanaknya anak kita. Tapi pekerjaan anak kita hari ini menunjukkan kesalahan salah satu dari kita.”

Ibu sang anak berkata, “Ketika aku hamil, aku pergi ke rumah tetangga dan pohon delima mereka membuatku tertarik. Aku melubangi sebuah delima dengan jarum dan mencicipi rasanya.” (Khondaniha-ye Pand Amuz, hal 36)

Pesan Allamah Majlisi Kepada Istrinya

Almarhum Akhond Mulla Muhammad Taqi Majlisi berpesan kepada istrinya, jangan menyusui Muhammad Baqir Majlisi kecuali dalam keadaan suci. (Qisas al-Ulama, hal 209)  (Emi Nur Hayati) 

Sumber: Hak Kedua Ayah dan Ibu serta Anak

taken from http://parstoday.com/id/news/middle_east-i36112

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pentolan Abu Sayyaf Tewas dalam Operasi Militer Filipina

Ujicoba Simpang Susun Semanggi Ditargetkan Juli Ini

Beredar Tiket Palsu, Panpel PS TNI Janji Perbaiki Kinerja